Make your own free website on Tripod.com

BAB III. KERAJAAN ALLAH

Tesis MA - Asian Religion

A. AJARAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

Latar Belakang

Tema Kerajaan Allah adalah tema yang populer diantara orang Yahudi saat Yesus hidup di bumi. Ini menjadi alasan utama mengapa Yesus mengajarkan tema ini pada murid-murid-Nya.

Orang Yahudi pada abad pertama Masehi berada di bawah jajahan kekaisaran Romawi. Kerajaan Romawi mulai berkembang sejak abad kelima SM, dan berkat sistim perang mereka yang dinamakan phalanx, akhirnya sekitar tahun 150 SM mereka berhasil menaklukkan Spanyol, Kartago (Afrika Utara), Makedonia, Asia Kecil, Yunani, Mesir, dan Palestina. Pada tahun 27 SM sampai 14 M, Augustus menjadi kaisar Romawi. Herodes Agung dari Idumea dan anaknya Herodes Antipas berhasil mengambil hati para petinggi Romawi untuk menjadi penguasa Yudea. Karena hubungan baiknya dengan Romawi maka Palestina menjadi aman. Selain itu, Palestina berada diantara dua kekuatan besar : Dinasti Seleukid di Syria dan Dinasti Ptolemi Mesir. Agar Romawi tetap dapat mengendalikan jalur perdagangan penting Palestina sambil tetap mengawasi kedua kekuatan ini, mereka membiarkan Palestina agak independen.

Pada saat itu, agama Yahudi sedang berkembang pesat. Pemerintah Romawi membangun jalan-jalan raya antar wilayah sehingga perdagangan ikut berkembang pesat. Para pedagang Yahudi berkelana di seluruh pesisir Laut Tengah sambil membawa agama Yahudi. Sentra utama agama Yahudi adalah Yerusalem, namun pusat-pusat yang lain ikut berkembang, diantaranya Aleksandria (Mesir), Damaskus, kota-kota di Asia Kecil, dan beberapa tempat lain. Pusat-pusat sinagog Yahudi itulah kemudian yang dimanfaatkan juga oleh para misionaris dalam menyebarkan Kekristenan.

Walaupun Roma adalah pusat sistem sosial dan politik, namun pusat bahasa, filsafat, dan kebudayaan adalah Yunani. Budaya dan bahasa Helenistik mewarnai seluruh dunia Laut Tengah yang relatif aman dan makmur. Tidak heran bila Alkitab Perjanjian Baru kemudian disusun terutama dalam bahasa Yunani.

Selain karena agama Yahudi, Palestina adalah jalur lintasan perdagangan utama antara Timur dan Barat. Palestina adalah jalan persimpangan utama tiga benua. Kafilah-kafilah dari Cina dan India menuju Mesir dan Eropa dipastikan melewati jalan-jalan raya yang lancar dan aman di wilayah Palestina. Nazaret dan kota-kota di Palestina utara yang lain, adalah tempat persinggahan penting (crossroad) para pedagang jarak jauh ini.

Pada masa Kristus, orang Yahudi sangat menantikan Mesias. Pusat ibadah besar di Yerusalem yang berhasil menjaga perkembangan agama Yahudi dan sistem imamat yang relatif independen itu membuat mereka makin yakin bahwa mereka adalah "bangsa pilihan Allah" sesuai apa yang dijanjikan dalam Taurat dan kitab para nabi. Mereka tidak sadar bahwa itu semua bagian dari strategi Romawi. Mereka berani bercita-cita untuk melemparkan belenggu penjajahan Romawi dari tengkuk mereka dan lebih dari itu, mereka ingin menjadi penguasa dunia di pimpinan bawah Mesias, yang telah dituliskan dalam kitab-kitab mereka. Bentuknya adalah kerajaan, seperti kerajaan Romawi dan kerajaan-kerajaan lainnya, dengan Allah menjadi raja (Lihat Mikha 4:7, Yesaya 33:22, 52:7, Zakharia 9:9). Kerajaan ideal mereka adalah seperti kerajaan Daud (Markus 11:10 dan Mazmur 118:26, sorak sorai orang-orang menyambut masuknya Yesus ke Yerusalem). Matius 2:2 mencatat pertanyaan orang Majus dari timur : "Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?" Yohanes 19:3 dan 19:14 memuat ejekan para prajurit dan perkataan Pilatus yang menyebut bahwa Yesus adalah Raja orang Yahudi. Tulisan di atas kayu salib juga berisi tulisan Raja orang Yahudi.

Ide alkitabiah tentang Kerajaan Allah berakar pada Perjanjian Lama dan didasarkan pada keyakinan bahwa ada satu Allah yang hidup dan kekal yang telah menyatakan diri-Nya pada manusia dan yang mempunyaio rencana bagi umat manusia dan Ia sudah memilih untuk melaksanakan rencana itu melalui orang Israel.

Para nabi mengumumkan adanya suatu hari ketika manusia akan hidup bersama secara damai. Waktu itu Allah akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa, maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak lagi akan mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yes 2.4 dan juga Yes 11:6). Dinubuatkan adanya masa dimana kejahatan tidak ada lagi. Akan ada kedamaian, keselamatan, dan keamanan yang dijanjikan.

Konsep Kerajaan Allah seperti yang dicita-citakan orang Yahudi tentulah sudah dipikirkan secara matang oleh Yesus dalam permulaan misinya di bumi. Setelah menganalisis situasi, Yesus mengetahui cita-cita ini akan gagal, pada waktu Dia menubuatkan kehancuran Yerusalem (Lukas 19).

Yesus tidak mau menjadi raja sebagaimana cita-cita orang Yahudi, karena Dia berkata dengan tegas, di depan Pilatus yang mengadilinya, bahwa "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini…" Ketika Pilatus bertanya "Engkaukah raja orang Yahudi?" Yesus tidak menjawabnya. Yesus menolak untuk diangkat menjadi raja seperti yang diinginkan oleh mayoritas orang Yahudi, setelah Dia memberi makan 5000 orang (Markus 6:44). Kalau saja Dia bersedia, dapat dipastikan Dia akan mencapainya. Yesus memiliki segala kuasa di langit dan di bumi, dan tidak ada yang bisa menghalangi bila Dia mengerahkan balatentara malaikat-Nya (Matius 26:53; 13:41) untuk melakukan kehendak-Nya. Tetapi Yesus sudah memikirkan itu dengan hikmat yang sempurna dan jauh ke depan. Dia menolak dengan tegas. Hal ini pula yang menyebabkan para imam dan orang Yahudi juga menolak Yesus (Lukas 19:14) dan menyalibkan Dia, karena tidak sesuai dengan konsep mereka akan Mesias dan Kerajaan Allah. Kekristenan akan jauh berbeda dalam perkembangannya, jika saja Yesus bersedia menjadi raja orang Yahudi. Barangkali akan mirip dengan Islam dengan pemimpin seorang nabi yang sekaligus menjadi pemimpin perang dan raja.

Ketika Yohanes Pembaptis muncul dari padang gurun sambil memberitakan bahwa kedatangan Kerajaan Sorga sudah dekat, orang Yahudi sangat berminat mendengarnya. Seluruh Yudea dan sekitar Yordan datang untuk dibaptis (Yohanes 4:3-5). Ketika utusan imam besar bertanya pada Yohanes Pembaptis, mereka pertama kali menanyakan apakah Yohanes adalah Mesias. Markus 1:15 mencatat bahwa Yesus memulai pelayanannya di muka umum dengan memberitakan kabar gembira dari Allah dalam kata-kata, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah….". Rupanya ini adalah berita yang sangat ditunggu-tunggu orang Yahudi.

Kemudian datanglah Yesus dan mengkhotbahkan tentang Kerajaan Allah. Tema ini menjadi inti misi Kristus "bertobatlah, sebab kerajaan Surga sudah dekat" (Mat 4:17). Yesus mengajarkan bagaimana cara memasuki Kerajaan Allah (Mat 5:20, 7:21). Karya-karyaNya yang luar biasa bertujuan untuk membuktikan bahwa Kerajaan Allah sudah datang (Mat 12:28). Perumpamaan yang Dia ucapkan memberikan gambaran tentang kebenaran Kerajaan Allah (Mat 13:11). Doa yang diajarkan Yesus antara lain ada kata-kata "Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat 6:10). Pada malam sebelum kematian-Nya, Ia berjanji pada murid-muridNya bahwa Ia akan menikmati kebahagiaan dan persekutuan di dalam Kerajaan itu bersama dengan mereka. (Luk 22:29-30). Dan Ia berjanji akan datang kembali dalam kemuliaan sambil membawa berkat Kerajaan itu untuk orang-orang yang bagi mereka Kerajaan tersebut telah disediakan (Mat 25:31,34).

Dalam gereja Kristen, ada banyak pendapat tentang Kerajaan Allah. Adolf von Hamack berpendapat bahwa Kerajaan Allah adalah sesuatu yang subyektif, suatu kekuatan rohani yang masuk dalam jiwa manusia dan menguasainya. CH Dodd mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah sesuatu yang absolut. Albert Schweitzer mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah kenyataan masa mendatang dan bersifat adikodrati. Ada lagi pendapat yang menghubungkan Kerajaan Allah dengan gereja, misi Gereja adalah untuk memenangkan dunia dan mengubahnya menjadi Kerajaan Allah. Kerajaan Allah didirikan melalui proklamasi gereja akan Injil. Kerajaan Allah akan mengubah dunia secara perlahan-lahan dan pasti seperti ragi. Kelompok lain memahami Kerajaan Allah sebagai pola ideal dalam masyarakat. Kerajaan Allah berkaitan dengan masalah-masalah sosial masa kini. Tugas utana gereja adalah membangun Kerajaan Allah.

Konsep Kerajaan Allah

Arti utama dari kata "kerajaan" ini dapat dilihat dalam Perjanjian Lama. Di situ yang dipakai dalam arti pemerintahan raja. Ezra 8:1 berbicara tentang kembali dari Babel pada zaman "pemerintahan raja" Artahsasta. II Taw 12:1 berbicara tentang pembangunan kerajaan atas pemerintahan Rehabeam. Daniel 8:23 menunjuk pada akhir dari kerajaan atau pemerintahan mereka. Bagian lain yang memakai kata "kerajaan" dalam arti pemerintahan manusia dapat ditemukan dalam Yeremia 49:34; II Taw 11:17, 12:1; Ezra 4:5; Nehemia 12:22 dan sebagainya.

Dalam kamus Inggris, terdapat arti kata "kingdom" yang salah satu definisinya adalah "tingkatan, kualitas keadaan atau atribut raja; kekuasaan raja; dominion; monarki; martabat raja." Ini lebih tepat dengan arti kata malkuth (bahasa Ibrani PL) dan basileia (bahasa Yunani PB), yang diartikan "tingkatan, kekuasaan, dan kedaulatan yang dimiliki seorang raja". Arti utama basileia adalah kekuasaan untuk memerintah, kedaulatan raja. Ladd berkesimpulan bahwa arti sesungguhnya Kerajaan Allah adalah pemerintahan, kekuasaan Allah, bukan wilayah. Dengan demikian ini tidak bertentangan dengan ayat bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu:

Jika kata kerajaan itu yang dimaksud adalah Kerajaan Allah maka artinya selalu adalah pemerintahan Allah, kekuasaan Allah, dan bukan wilayah berlakunya pemerintahan itu. Mazmur 103:19 "Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu ." Kerajaan Allah itu universal atas seluruh bumi dan segala abad (Mazmur 145:11; Mazmur 145:13; Daniel 2:37, 5:26). Wilayah pemerintahan Allah adalah langit dan bumi.

Contoh lain terdapat dalam perumpamaan Lukas 19:11-12. Yesus menceritakan perumpamaan bahwa ‘ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja (menerima basileia) dan di situ dan setelah itu baru kembali’. Bangsawan itu sudah memiliki wilayah, tetapi dia pergi untuk mendapatkan otoritas raja. Cerita tersebut adalah cerita tentang Herodes Agung yang pergi ke Roma pada tahun 40 SM untuk mendapatkan kekuasaan dari Senat Romawi untuk menjadi raja atas orang Yahudi di Yudea. Sekali lagi bahwa kerajaan Allah bukan menyangkut wilayah atau rakyat, tetapi pemerintahan Allah.

Kerajaan Allah adalah kekuasaan, pemerintahan Allah, dan untuk memasukinya kita harus percaya dan menyerahkan diri pada Allah.

Yesus mengatakan bahwa kita harus "menyambut Kerajaan Allah" seperti anak kecil (Markus 10:15). Apakah yang disambut? Gereja? Surga? Yang disambut adalah pemerintahan Allah. Untuk masuk ke wilayah Kerajaan masa mendatang itu orang harus menyerahkan dirinya dengan percaya sepenuhnya pada pemerintahan Allah sekarang ini. Kita harus mencari "dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya" (Mat 6:33) . Kita harus mencari kebenaran Allah – kekuasaan-Nya, pemerintahan-Nya, kedaulatan-Nya dalam kehidupan kita.

Pemerintahan Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun pemerintahan Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah penebusan. Oleh karena itu, manusia dapat masuk ke dalam wilayah pemerintahan Allah dalam beberapa tahap perwujudannya dan mengalami berkat-berkat pemerintahan-Nya itu dalam kadar yang berbeda-beda. Kerajaan Allah adalah zaman yang Akan Datang, yang lazim disebut surga. Akan tetapi Kerajaan itu ada di sini saat ini. Ada wilayah berkat rohani yang dapat kita masuki saat ini dan dapat kita nikmati sebagian dari berkat-berkat pemerintahan Allah itu secara nyata.

Istilah Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga

Kedua istilah itu dipakai secara bergantian. Dalam Injil sinoptik, hanya Matius yang menggunakan istilah Kerajaan Sorga, dan dalam Matius 12:28; 19:24; 21:31,43, Matius memakai istilah Kerajaan Allah. Markus, Lukas, dan Yohanes selalu memakai istilah Kerajaan Allah. Namun secara umum tidak ada perbedaan arti dari kedua istilah ini.

Perbedaan kedua ungkapan tersebut dapat dijelaskan berdasarkan ilmu bahasa. Kerajaan Sorga dipakai dalam bahasa Semit, sedangkan Kerajaan Allah dipakai dalam bahasa Yunani untuk menyatakan ungkapan yang sama. Yesus mengajar dalam bahasa Aram, bahasa yang sangat mirip bahasa Ibrani, sedangkan PB ditulis dalam bahasa Yunani. Yesus ketika mengajar orang-orang Yahudi mungkin memakai istilah "Kerajaan Surga" yang akan merupakan bentuk ungkapan khas Yahudi. Ungkapan ini kemudian oleh bangsa Yunani diterjemahkan menjadi Kerajaan Allah. Dalam Injil Matius, yang mungkin ditulis oleh orang-orang percaya berbangsa Yahudi, ungkapan asli "Kerajaan Surga" biasanya dipertahankan. Istilah Kerajaan Allah, Kerajaan Surga, kehidupan kekal, keselamatan, adalah istilah-istilah yang dalam pemakaiannya dapat dipertukar-tempatkan.

Definisi Kerajaan Allah menurut Ladd (Kerajaan Allah..) adalah sebagai berikut :

Kerajaan Allah pada dasarnya adalah pemerintahan Allah; kekuasaan Allah, kedaulatan ilahi yang sedang bekerja. Namun kekuasaan Allah ini diwujudkan dalam beberapa ruang lingkup. Injil mengungkapkan bahwa orang dapat masuk Kerajaan Allah pada masa kini maupun masa mendatang. Kekuasaan Allah pada masa kini dan masa mendatang, karena itu tercipta Kerajaan pada masa kini dan masa mendatang yang di dalamnya manusia dapat menikmati berkat-berkat pemerintahan-Nya.

Kerajaan Allah Masa Mendatang

Kerajaan Allah juga mencakup masa mendatang. Kerajaan itu belum sempurna diwujudkan pada masa sekarang. Dan itu akan mewujudkan suatu tatanan dunia yang baru sama sekali dari masa sekarang ini.

Namun demikian Allah telah mewujudkan pemerintahan-Nya, kehendak-Nya, dan kerajaan-Nya pada waktu Kristus datang sebagai manusia. Karena itu kita dapat mengalami kehidupan kerajaan Allah itu sekarang. Kristus datang dua kali, kedatangan pertama adalah penjelmaan, kedatangan yang kedua dalam kemuliaan adalah disebut Parousia. Jadi ada dua perwujudan Kerajaan Allah. Yang satu sudah ada sekarang karena Anak Allah sudah datang di antara manusia. Yang lain adalah Kerajaan Allah dalam kuasa dan kemuliaan ketika Kristus datang kembali kelak.

Alkitab berbicara tentang "Zaman ini" dan "Zaman Yang Akan Datang." Dalam Matius 12:32, istilah Yunani yang digunakan adalah aion yang berarti zaman. Dua zaman ini terpisah oleh Kedatangan Yesus kedua kali dan kebangkitan orang mati. Zaman ini akan berakhir pada parousia, kemudian menyusul zaman yang akan datang (Lukas 20:34-36, Matius 24:3).

Apa perbedaan masa asekarang dan masa yang akan datang?

Zaman ini dikuasai oleh kejahatan, dan pemberontakan terhadap kehendak Allah, sementara zaman yang akan datang adalah Zaman Kerajaan Allah (Galatia 1:4 menyebutkan bahwa dunia sekarang adalah jahat, dan manusia membutuhkan kelepasan oleh kematian Yesus Kristus).

Zaman dunia ini mengandung tanda penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (Ef 2:1-2). Jika kita hidup menurut zaman ini maka itu berarti kita adalah mengikuti keinginan daging, dan harus dimurkai (Galatia 5:19-21). Matius 13:22 menceritakan tentang perumpamaan penabur, dimana ciri khas zaman ini nampak dalam seluruh bidang kehidupan (…kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah..). Kekuatiran tentang kehidupan jasmaniah, tekanan dan ambisi untuk menjadi kaya, sukses, makmur, dan berkuasa. II Korintus 4:3-4 menerangkan tentang ilah zaman ini, yaitu Iblis. Ilah zaman ini membutakan orang–orang sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus. Inilah ciri zaman ini : kegelapan.

Alkitab mengatakan bahwa zaman sekarang merupakan zaman yang jahat, tetapi Kerajaan Allah termasuk dalam Zaman Yang Akan Datang. Kerajaan Allah baik sebagai perwujudan sempurna pemerintahan Allah maupun sebagai wilayah yang penuh dengan berkat-berkat, merupakan bagian dari Zaman yang Akan Datang.

Kerajaan Allah termasuk Zaman yang Akan datang, dan akan terjadi setelah kebangkitan orang mati. Dalam I Korintus 15:50 Paulus berkata bahwa "daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." Paulus berbicara tentang kebangkitan. Daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah. Tubuh kita harus diubah supaya tidak lagi terdiri atas daging dan darah yang dapat binasa, tetapi terdiri atas tubuh "rohaniah" yang tidak dapat binasa, penuh kemuliaan dan kekuatan (ayat 42-44). Dengan tubuh kebangkitan yang sudah diubah ini kita akan memasuki Kerajaan Allah. Kerajaan Allah akan datang setelah kebangkitan.

Kerajaan Allah akan diperkenalkan pada hari penghakiman. Perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13) memberitahukan bahwa sepanjang Zaman ini orang baik dan jahat akan hidup berdampingan seperti gandum dan lalang tumbuh bersama. Pada waktu menuai yaitu pada akhir zaman akan terjadi pemisahan, yaitu pada saat penghakiman. Penghakiman akan mengakhiri Zaman ini dan membawa anak-anak Kerajaan ke dalam kegembiraan yang penuh karena berkat-berkat Kerajaan. Dalam perumpamaan tentang pukat (Mat 13:49-50) kita menemukan susunan cerita yang sama "Demikianlah juga pada akhir zaman, malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api" (Mat 13:49-50).

 

Ringkasan Konsep Kerajaan Allah menurut Yesus

Yesus tidak pernah memberikan suatu definisi yang jelas tentang Kerajaan Allah. Namun demikian mungkin bisa disimpulkan sebagai berikut :

1. Kerajaan Yesus itu tidak merupakan kelanjutan tahta Daud atau kerajaan jasmaniah di bumi, tetapi lebih merupakan suatu kerajaan rohaniah (Lukas 17:20-21, Yoh 18:36, Roma 14:17)

2. Kerajaan Allah berhubungan dengan pemerintahan Allah dalam hati manusia (Lukas 11:20, 17:21, Mat 6:33).

3. Kerajaan itu dipimpin oleh Raja, yang lebih tepat disebut Bapa (lihat doa Bapa Kami, Mat 6:10).

4, Kerajaan itu sudah diserahkan Bapa kepada Anak. Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus (Lihat Mat 5:10-11; 7:21-22; 10:32-40; 11:27; Markus 12:6; 13:26; Luk 10:22; Yoh 10:27-30; 17:1-2).

5. Kerajaan itu bersifat persaudaraan sesama anak Tuhan atau murid Yesus (Luk 11:20, 17:21)

6. Kerajaan Allah itu harta yang sangat berharga (Mat 13:44-46; Luk 12:31). Yesus menghimbau pengikutnya agar bersedia menderita dan mengorbankan segala sesuatu termasuk hidup merekla demi menjadi anggota yang sungguh dalam Kerajaan Allah (Mrk 8:34-38; Luk 9:23-26; 12-4-9; Mat 16:24-27; Yoh 15:18-21; 16:33; 21: 18-19).

7. Kerajaan itu mencakup masa kini. Ajaran Yesus bahwa pemerintahan rajawi Allah telah menjadi fakta nyata dalam diri Yesus sendiri dan dalam pelayananNya (Mrk 1:15; Mat 11:27; 12:28; Luk 4:21; 10:17-24)

8. Kerajaan itu juga mencakup masa depan, kepenuhan kemuliaan pemerintahan Allah di muka bumi. Yesus mengajarkan dengan tandas bahwa penggenapan seutuhnya Kerajaan Allah itu masih akan datang (Mrk 13:24-27; Mat 13:40-43, 49-50; Luk 11:29-32; 21:25-31; 22:18; Yoh 5:27-29; 14:2-3 dll).

9. Agar masuk Kerajaan itu, manusia harus bertobat dan percaya, maka ia akan beroleh bagian dalam berkat-berkat kemenangan yang menyertai Kerajaan itu (Mrk 1:15; 2:9-12; Mat 11:28; 22:10; Yoh 10:9-10; Luk 5:32; 7:48-50; 15:1-32, dan lain-lain).

Dari perumpamaan tentang bahwa Kerajaan Allah itu seumpama benih (biji sesawi) dan ragi (Mat 13:31, Mrk 4:31, Luk 13:19, Luk 13:21) nampaknya ada suatu proses perkembangan bertahap. Kerajaan itu dimulai dari pemerintahan Allah dalam hati manusia secara pribadi, kemudian diwujudkan dalam persaudaraan sesama anak Tuhan, kemudian meluas sehingga mencakup segenap aspek kehidupan bumi, dan akhirnya suatu langit dan bumi yang baru dan sempurna. Ini adalah suatu kabar yang luar biasa baik, suatu Injil Kerajaan yang harus dikabarkan.

Ungkapan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga pada dasarnya berarti pemerintahan yang berdaulat, kuasa rajani Allah, yang secara khas dimanifestasikan dalam pelayanan Yesus, yang ditentukan akan ditegakkan genap seutuhnya pada saat Anak Manusia dinyatakan dalam kemuliaanNya. Keselamatan ditawarkan kepada semua orang yang betobat dari dosa-dosa mereka dan yang percaya pada Yesus Kristus. Yeuss memulai pelayanannya dimuka umum dengan memberitahukan ini sebagai kabar baik (Mrk 1:14-15; Mat 4:17-23).

 

B. AJARAN ISLAM TENTANG KERAJAAN ALLAH

Raja dan Kerajaan Allah

Istilah "Raja" dijumpai dalam Al-Qur’an, dan menggunakan istilah yang sama, yaitu "Malik", ditemui dalam 17 ayat, dipakai baik untuk menyebut seorang raja manusia, maupun untuk menyebut tentang Allah. Istilah "Kerajaan" dijumpai dalam 27 ayat, dan merupakan turunan dari kata malik yaitu kata "mulkun". Kata ini juga bisa diterjemahkan dengan "pemerintahan". Sedangkan kata yang juga berarti pemerintahan adalah "hukmun" dan "amrun." Dalam Al-Qur’an, kerajaan dunia yang disebut antara lain Mesir (43:51), Sulaiman (2:102), Firaun (12:43-76), dan Israel (2:246). Istilah raja dan kerajaan dalam Hadis dijumpai lebih dari 30 kali, dan semuanya menggunakan kata-kata di atas.

Dalam Al-Qur’an dan Hadis secara khusus disebutkan tentang Allah yang adalah Raja atas langit dan bumi (Al-A’raf 185, Al-An’am 75, dll), Allah Raja yang Sejati (Taha 114, Al-Mu’minun 116, dll), Raja Perkasa (Al-Qamar 55), Raja umat manusia (An-Nas 2). Raja Hari Pembalasan (1:4). Allah tidak ada sekutu dalam Kerajaan-Nya, tidak beranak (Surah 17:111). Ayat-ayat yang mengandung arti Allah sebagai Raja langit dan bumi antara lain adalah : Surah 2:107, 3:26, 3:189, 5:18, 5:40, 5:120, 7:185, 9:116, 24:42: 25:2, 35:13, 42:49, 43:85, 45:27, 48:14, 57:2, 57:5, 67:1, 85:9, dan 17:111.

Konsep Allah sebagai Raja juga erat kaitannya dengan Allah sebagai Hakim. Di atas telah disebut bahwa istilah pemerintahan bisa diartikan sebagai perintah (‘amr), kerajaan (mulk), atau hukum (hukm). Allah sebagai hakim disebut dalam Surah 6:114, 7:87, 10:109, 11:45, 12:80, dan 95:8, yang pada intinya mengungkapkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil.

Pengertian Kerajaan Allah dapat dijumpai dalam hukum Islam. Dalam Fiqh Sunna 899 yang memuat diskusi dan pendapat para ahli fiqh Islam terdapat istilah "kerajaan sorga, " yang luas, yaitu kerajaan Allah. Dalam Fiqh Sunna 932 ayat 2 dimuat doa permohonan Nabi pada sore dan pagi hari, yang menyebutkan tentang "Kerajaan Allah": "Kita mempunyai malam hari, dan seluruh Kerajaan Allah juga mempunyai malam hari, dan semua pujian hanya bagi Allah." Dalam Fiqh Sunna 1143 dicantumkan doa untuk keperluan haji. "Semua kerajaan dan pujian adalah milik Allah". "Dia sajalah pemilik semua kerajaan, dan semua pujian. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu" Kalimat serupa dijumpai pula dalam Hadis Al-Muwatta Imam Malik 15.7.20; 15.7.22; 20.9.28; 20.41.128; dan 20.81.252.

Definisi Raja

Konsep raja adalah gelar untuk penguasa laki-laki yang berkuasa atas suatu negara, bangsa atau suku, umumnya seumur hidup dan oleh suksesi keturunan. Konsep ini umumnya berhubungan dengan tradisi monarki Eropa.

King, title of a male ruler vested with authority over a single state, nation, or tribe, usually for life and by hereditary succession. The term is usually taken as applying specifically to the European tradition of monarchy. The early Teutonic kings were usually elected; this practice ended, however, with the institution of primogeniture. Under the influence of Christianity, kings came to be crowned and anointed by ecclesiastical authority, a practice justified theoretically by the doctrine of the divine right of kings. Kingship by divine right was not successfully challenged until the English Civil War and the Glorious Revolution of 1688 when the power of kings was limited by constitution or custom. Among the civil powers enjoyed by such constitutional monarchs in modern times have been appointments to office, the approval or rejection of legislative measures, the negotiation of treaties, and the granting of clemency and pardon.

Saat munculnya Islam, kerajaan yang berkuasa di sekitar Arab antara lain adalah Kerajaan Byzantium yang meliputi seluruh Laut Tengah bagian timur. Kerajaan ini adalah pecahan dari Kerajaan Romawi di bagian timur. Selain itu ada kerajaan Aksum di Ethiopia (meliputi Afrika bagian Timur, salah satu ratunya pada zaman sebelumnya adalah Ratu Sheba) dan kerajaan Ghana di Afrika bagian Barat. Di sebelah timur sampai India terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, tetapi di Cina ada kerajaan besar Dinasti Tang. Setelah runtuhnya Romawi, Eropa terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Muncul raja-raja kecil yang berdaulat, yang dibantu para prajurit dan para petani di wilayah masing-masing. Masa itu disebut masa kegelapan, karena hancurnya peradaban, perang dimana-mana dan masa yang sangat tidak stabil. Namun demikian, nampaknya Muhammad dan para pengikutnya lebih terpengaruh oleh Kerajaan Byzantium, yang kemudian menjadi target untuk ekspansi Islam. Kerajaan Byzantium ini merupakan negara-agama Kristen Ortodoks.

In the late 3rd century AD, the emperor Diocletian divided the Roman Empire into two parts for administration and defence. In 330, the emperor Constantine the Great made the ancient city of Byzantium the capital of the eastern part of the Roman Empire, rebuilding it and naming it Constantinople. As the western portion of the Roman Empire grew weaker, Constantinople came to inherit the mantle of Rome. In 395 the empire split permanently, and with the fall of Rome in 476, the Eastern Empire laid claim on the entire Roman world. Constantinople was called "the new Rome", and its ruler was called "Emperor of the Romans". Roman law was followed throughout the empire, and Byzantine money became the standard currency in the Mediterranean world for many centuries.

The Byzantine claim to the old Roman world came close to being realized during the reign of Justinian I (527-565), who reconquered large portions of the old empire in Italy, Spain, and Africa. His laws, called the Justinian Code, enshrined the old Roman laws. Justinian's successors, however, lost the new territories. The empire was reduced to Asia Minor and a portion of the Balkan Peninsula. It was weakened further by the rise of the Seljuk Turks in the east; by 1071 they had taken control of Asia Minor.

Throughout the Byzantine Empire, much of the knowledge of ancient Greece and Rome was preserved and passed on to the modern world. In many respects, the empire was more Greek than Roman; the dominant language, for example, was Greek. The great landmark of Byzantine culture was Hagia Sophia, a magnificent cathedral built by Justinian during the 6th century. The Byzantines developed a distinctive form of Christianity, more conservative than Roman Catholicism, and more faithful to early forms of worship.

 

Dapat disimpulkan bahwa Islam memahami Kerajaan Allah dalam bentuk yang sangat sederhana, yaitu sama halnya seperti kerajaan manusia, tetapi wilayahnya yang meliputi langit dan bumi. Dan Allah adalah pemilik dari semua kerajaan dan segala sesuatu. Dari dulu sampai sekarang, sampai akhir zaman, dan selama-lamanya, Allah tetap berkuasa dalam Kerajaan-Nya.

 

Konsep Kerajaan dalam Perkembangan Islam

Dalam sejarahnya, bangsa Arab ternyata kemudian melakukan ekspansi. Penelitian menunjukkan bahwa bangsa Arab tidak melakukan itu semata-mata karena untuk menyebarkan agama. Orang Arab tidak selalu memaksa bangsa yang mereka tundukkan untuk memeluk Islam. Teologi, sistem ibadah dan hukum Islam telah mulai berkembang di sekitar Arab sebelum mereka kemudian ditaklukkan di bawah Islam.

The rise of Islam in both senses of the word should be understood as an extended process, not as something which happened in a short space of time or was confined to a limited geographical area. Traditionally, emphasis has been placed upon the career of Muhammad, the prophet of Islam, who was active in western Arabia in the early decades of the 7th century (he had his first prophetic experience in 610, and died in 632), and who founded and ruled the first Islamic state. Stress is also put upon the Arab conquest of the Middle East outside Arabia, in the period between about 630 and 650. The territories conquered in this period were the springboard for a vast extension of the area under Arab Muslim rule: by about 750 the Arab Muslim empire extended from Spain and Morocco to the borders of India and China. The first waves of expansion, in which the Abbasids had controlled vast areas of North Africa, Spain, and Central Asia, culminated in the loss of their capital, Baghdad, to the Shiites, in 945.

In traditional accounts this expansion of Arab Muslim rule is attributed to the wish to spread Islam: it is envisaged that the Arabs brought Islam with them and imposed it (by force or by offering incentives) on the peoples they conquered. This traditional view is an oversimplification. Modern research has revealed that the development of some of the fundamental features of Islam was much more gradual. The development of the Sunni and Shiite traditions of Islam, the creation of systems of law and theology, the elaboration of a rich tradition of religious and other writing, and the building up of a substantial body of people who identified themselves as Muslims, all took place outside Arabia in the period following the Arab conquest of the Middle East. Furthermore, it has become clear that the Arabs did not impose Islam by force on the peoples they conquered. More is now understood about the religious and cultural diversity of the peoples of the Middle East before the coming of the Arabs, and about the possible reasons why large numbers of them would have been willing to elaborate and adopt new religious, linguistic, and cultural identities following their conquest by the Arabs.

Perkembangan Islam yang demikian cepat ini melahirkan kerajaan-kerajaan Islam, dimana hukum Islam menjadi dasar negara tersebut.

By the year 750, the Islamic world had begun to fragment into separate kingdoms, or caliphates. The most powerful caliphate was centred in Baghdd. A year before, the Abbasid family (descended from Abbas, the uncle of Muhammad) had supplanted the Umayyad family and begun a reign that would last almost five centuries. During the early years of the Abbasid caliphate, Baghdd was the centre of one of the great flowerings of human knowledge. Theologians, philosophers, poets, and doctors gathered in Baghdd to study at the "House of Knowledge". They translated Greek classics into Arabic, studied Indian mathematics, learnt about paper from China, and explored Buddhism. Subsequently, Arab scholars throughout the Muslim world from Cordoba to Cairo to Samarqand corresponded with each other. At Cairo, the Arabs founded an institution during the 9th century that is often described as the world's first university. Baghdd eventually fell to Turkish invaders, who adopted the Muslim faith; later, in 1258, it fell to the Mongols.

In Islamic, or Moorish, Spain a separate Umayyad dynasty was established in 756, led by the only survivor of the bloodbath that followed the rise of the Abbasid dynasty in Baghdd. In 929 Abd-ar-Rahman III proclaimed himself caliph, and so challenged Baghdd's leadership of the Muslim world. Moorish Spain was a centre of learning and strongly influenced Christian Europe. Cordoba had a library with 400,000 volumes. The Spanish Moor Al Hassan pioneered the study of the human eye, and Abu Kasim wrote the first illustrated text on surgery. Medical education in Europe had its origins in Muslim Spain.

During the 15th century, in a kind of internal crusade, Spanish Christians slowly pushed the Moors from Spain; the last Islamic stronghold, Granada, fell in 1492. This "reconquest" allowed the Christian rulers Ferdinand V and Isabella I to turn their attention to supporting an explorer named Christopher Columbus, who claimed he could reach Asia by sailing across the Atlantic.

Other Muslim kingdoms were established in Asia and Africa. In 999 Mahmud of Ghazni established a Turkish Islamic empire in Afghanistan. His court at Ghazni was another centre of culture. Under Mahmud, the Turks frequently raided northern India, and eventually that region entered the Islamic orbit. Between 1206 and 1526 the Delhi Sultanate, ruled by Turkish Muslims, controlled much of India. Muslims also pushed into sub-Sarahan Africa, where they conquered Nubia and other African states. The kingdom of Ghana fell to the Muslims in 1076. Soon mosques appeared deep in Africa.

Konsep kerajaan Islam yang diterapkan di bumi dipimpin oleh Khalifah sebagai wakil Allah di dunia, yang pada prakteknya adalah seperti kerajaan biasa, namun dengan Islam sebagai dasar negara. Jadi Islam menerapkan konsep kerajaan Allah dalam dunia lebih secara jasmaniah, bukan secara rohaniah saja.

The word 'Caliph' is the English form of the Arabic word 'Khalifa,' which is short for Khalifatu Rasulil-lah. The latter expression means Successor to the Messenger of God, the Holy Prophet Muhammad (peace be on him). The title 'Khalifatu Rasulil-lah'. was first used for Abu Bakr, who was elected head of the Muslim community after the death of the Prophet.

The Significance of the Caliphate

The mission of Prophet Muhammad (peace be on him), like that of the earlier messengers of God, was to call people to the worship of and submission to the One True God. In practice, submission to God means to obey His injunctions as given in the Holy Qur'an and as exemplified by Sunnah (the practice of the Prophet). As successor to the Prophet, the Caliph was the head of the Muslim community and his primary responsibility was to continue in the path of the Prophet. Since religion was perfected and the door of Divine revelation was closed at the death of the Prophet, the Caliph was to make all laws in accordance with the Qur'an and the Sunnah. He was a ruler over Muslims but not their sovereign since sovereignty belongs to God alone. He was to be obeyed as long as he obeyed God. He was responsible for creating and maintaining conditions under which it would be easy for Muslims to live according to Islamic principles, and to see that justice was done to all. Abu Bakr, at the time he accepted the caliphate, stated his position thus :

"The weak among you shall be strong with me until their rights have been vindicated; and the strong among you shall he weak with me until, if the Lord wills, I have taken what is due from them... Obey me as long as I obey God and His Messenger. When I disobey Him and His Prophet, then obey me not."

Caliphate, office and realm of the caliph as supreme leader of the Muslim community and successor of the Prophet Muhammad. Under Muhammad the Muslim state was a theocracy, with the Shari'ah law, the religious and moral principles of Islam, as the law of the land. On his death in AD 632, a group of Islamic leaders met in Medina, the capital of the Muslim world at that time, and elected Abu Bakr, the Prophet's father-in-law and closest associate, to lead the community. Abu Bakr took for himself the title khalifat Rasul Allah (Arabic, "successor to the Messenger of God"), from which the term caliph (Arabic, khalifah, "successor") is derived. The caliphs were both secular and religious leaders. They were not empowered, however, to promulgate dogma, because it was considered that the revelation of the faith had been completed by Muhammad.

The Sunni (followers of the Sunna hadith, the body of Islamic custom or the Way of the Prophet), who constitute a majority of Muslims, generally consider the period of the first four caliphs the golden age of Islam. Other sects, however, as they were formed, came to regard this period and subsequent caliphates differently, and as a result great hostility has frequently arisen between Sunni and other Muslims, such as the followers of Shiism, concerning the caliphate. During the course of Islamic history the issue of the caliphate has probably created more dissension than any other article of faith.

Based on the examples of the first four "rightly guided" caliphs and companions of the Prophet, the Sunni formulated the following requirements of the caliphate: the caliph should be an Arab of the Prophet Muhammad's tribe, the Quraysh; he should be elected to his office and approved by a council of elders representing the Muslim community; and he should be responsible for enforcing divine law and spreading Islam by whatever means necessary, including war. In the history of the caliphate, however, all these requirements were rarely met. In practice, the position of caliph has been filled by hereditary succession, though many Muslims, later disapproved of this as a deviation from the essential nature of Islam. The Shiites, in contrast, believing that the Prophet himself had designated his son-in-law, Ali ibn Abi Talib, as both his temporal and spiritual successor, accepted only Ali's descendants (by Fatima, Muhammad's daughter) as legitimate claimants to the caliphate.

Since the doomed attempt of Ali and his son Husain to succeed to the caliphate, the major dynasties of caliphs have been the Umayyads, the Abbasids, and the Fatimids. From about the 13th century various monarchs throughout the Muslim world, particularly the sultans of the Ottoman Empire, assumed the title caliph indiscriminately without regard to the prescribed requirements of the caliphate. The title held little significance for the Ottoman sultans until their empire began to decline. In the 19th century, with the advent of Christian powers in the Near East, the sultan began to emphasize his role as caliph in an effort to gain the support of Muslims worldwide. After the collapse of the Ottoman Empire in World War I, Turkish nationalists deposed the sultan, and the caliphate was finally abolished (March 1924) by the Turkish Grand National Assembly. This brought consternation to many sections of the Muslim world, but subsequent efforts to resolve the issue have been abortive, and the restoration of the caliphate is now regarded by many Muslims as irrelevant to modern Islam.

Ajaran Yesus bahwa kerajaan Allah yang sebenarnya adalah dimulai dari pemerintahan Allah dalam hati manusia, yang kemudian menjelma menjadi persaudaraan sesama manusia, dan meluas dalam segenap umat manusia. Dengan demikian bentuk sosial politik dan hukum bisa beraneka ragam dan berkembang sesuai zaman, tetapi Allah tetap mengendalikan manusia secara pribadi (individual) dan dengan demikian Allah akhirnya akan mengendalikan segenap kehidupan di muka bumi.

Kita harus mendorong Islam untuk mengembangkan konsep mereka tentang Kerajaan Allah yang hendak diterapkan dimuka bumi. Konsep itu hendaknya bukan didasarkan atas hukum-hukum tertulis yang kaku dan tidak fleksibel mengikuti perkembangan modern.