Make your own free website on Tripod.com

BAB II. KONSEP ALLAH

Tesis MA - Asian Religion

A AJARAN YESUS TENTANG KONSEP ALLAH SEBAGAI BAPA

Dari Alkitab, khususnya dari pernyataan-pernyataan Yesus sendiri dapat ditarik beberapa kesimpulan. Yang pertama, bahwa Yesus mengajarkan konsep baru dalam hubungan dengan Allah. Konsep itu adalah bahwa Allah adalah Bapa.

Ajaran bahwa Allah adalah Bapa adalah ciri paling khas ajaran Yesus. Allah bukan hanya Bapa umat Israel seperti dalam PL, tetapi juga Bapa pribadi orang percaya. Yesus mengajar bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dalam arti khas (Luk 2:49; 10:21-22; 20:41-44; Mat 11:25-27; 15:13; Yoh 3:35; 5:18 dan masih banyak lagi). Lebih dari 60 kali istilah Bapa dipakai dalam Injil Sinoptik dan lebih dari 25 kali dipakai oleh Yesus untuk menyebutkan Allah sebagai Bapa-Nya pribadi.

 

Nama-nama Allah yang dapat dijumpai dalam Alkitab antara lain adalah El (Kejadian 31:13), Elyon (Bil 24:16), Elohim (Kej 1:1), Eloah (Ul 32:15), Yahweh atau Yehova (nama Allah yang umum digunakan, Kej 12:8, 13:4, dll), AKU ADALAH AKU (pernyataan pada Musa). Dari nama-nama tersebut diturunkan banyak nama yang lain. Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah suatu oknum (pribadi) yang bisa berkomunikasi dengan manusia, Allah yang mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.

Tetapi uniknya, Yesus tidak menggunakan nama-nama Allah di atas. Dia menyebut Allah hanya sebagai Allah dan Bapa. Ajaran Allah sebagai Bapa sebetulnya bukan berasal dari Yesus, Allah telah disebut sebagai Bapa manusia dan umat Israel (Ulangan 14:1; 2 Samuel 7:14; I Taw 17:13; Yesaya 63:16; Maleakhi 2:10, dan lain-lain). Walaupun demikian, Yesus memberikan arti yang baru dan mendalam.

Istilah "Bapa" yang digunakan Yesus adalah dari bahasa Aram, yaitu "Abba" yang kemudian masuk dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Indonesia kata Abba Bapa muncul 3 kali (Markus 14:36, Roma 8:15, Galatia 4:6). Dalam Talmud Babel, istilah ini digunakan sebagai panggilan seorang anak kepada ayahnya, atau sebutan penghormatan murid pada seorang rabi. Kata ini mengandung rasa hormat dan keakraban. Tetapi orang Yahudi tidak pernah memakainya terhadap Tuhan. Nampaknya Yesus-lah yang pertama memanggil Allah dengan Abba, dan memberi hak kepada murid-murid-Nya untuk berbuat demikian (Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, halaman 1).

 

Allah adalah Bapa-Nya Pribadi

Yesus menyebutkan bahwa Bapa adalah Bapa-Nya pribadi. Dia mengaku dan menyebut Allah secara literal, seperti seorang anak menyebut Bapa-Nya. Tidak ada guru agama lain yang berkata semacam itu.

Dari awal Yesus menyatakan dengan jelas bahwa Dia adalah Anak Allah. Dalam Lukas 2:48-50, misalnya Yesus mengatakan pada Maria ibu-Nya bahwa Bapa-Nya yang sebenarnya adalah Allah. Dalam ucapan-Nya yang terakhir di kayu salib Dia menyerahkan nyawaNya pada Allah Bapa (Lukas 23:46).

Ajaran bahwa Allah adalah Bapa adalah ciri paling khas ajaran Yesus. Allah bukan hanya Bapa umat Israel seperti dalam PL, tetapi juga Bapa pribadi orang percaya. Yesus mengajar bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dalam arti khas (Luk 2:49; 10:21-22; 20:41-44; Mat 11:25-27; 15:13; Yoh 3:35; 5:18 dan masih banyak lagi). Lebih dari 60 kali istilah Bapa dipakai dalam Injil Sinoptik dan lebih dari 25 kali dipakai oleh Yesus untuk menyebutkan Allah sebagai Bapa-Nya pribadi.

Jika Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya, Ia tak pernah menyebut Allah sebagai ‘Bapa kita’, melainkan sebagai ‘BapaKu’ (Luk 10:22; Mat 11: 27; 12:50 dll) atau ‘Bapamu’ (Markus 11:25-26; Mat 5:45 dsb). Tidak ada guru agama yang menyebut Allah dengan cara yang demikian mutlak, pribadi dan unik. Tidak ada guru agama sebelum dan sesudah Yesus yang mengatakan "Semua telah diserahkan kepadaKu oleh Bapaku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya" (Mat 11:27; bandingkan dengan Luk 10:22; Mrk 8:38; dsb). (Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, hal. 585).

Namun demikian, Yesus juga mengatakan bahwa Allah adalah Bapa murid-murid-Nya. Dalam khotbah di bukit (Matius 6:1-34), Yesus mengatakan lebih dari 14 kali bahwa Allah adalah Bapa dari murid-muridNya. Yesus mengajar para muridNya berdoa dimulai dengan panggilan ‘Bapa kami’. Para murid tidak usah takut, karena Bapa mengetahui apa yang mereka perlukan (Mat 10:28-30; 6:26-32). Lebih unik lagi, tujuan hidup manusia adalah menjadi seperti Bapa di sorga. Karena Allah itu sempurna, maka para murid juga harus demikian ( Mat 5:43-48; Luk 6:36). Ajaran ini sangat bertentangan dengan ajaran Yahudi yang memandang Allah sebagai yang transenden dan jauh.

Karena hubungan manusia dan Allah adalah seperti hubungan anak dan bapak, ajaran ini menjungkir-balikkan ajaran agama Yahudi. Allah adalah panjang sabar dan kasih, sehingga ada kesempatan bahkan bagi pendosa terbesar (perumpamaan anak terhilang, Lukas 15:11-32 dan dibuktikan dengan mengampuni penjahat di atas kayu salib). Bapa mengasuh dan memperhatikan semuanya (Mat 6:26; 10-29-30; Lukas 12:24-27). Bapa tahu kebutuhan anak-anakNya sehingga orang percaya tidak perlu kuatir (Lukas 12:4-7, 22-32). Bapa selalu setia dalam segala suasana yang paling sukar dan berbahaya (Lukas 12:11-12; Markus 13:11). (Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, halaman 585-586)

Anak-anak Allah dan Saudara

Dari segi bahasa dan pengertian, Yesus menggunakan istilah Bapa yang sama, baik untuk diterapkan pada diri-Nya ataupun pada murid-murid-Nya. Yesus, dengan mengajarkan secara literal bahwa Allah itu adalah Bapa murid-murid-Nya, mengajarkan bahwa manusia sesungguhnya adalah anak-anak Allah. Bukan hanya Yesus yang bisa digelari anak Allah, melainkan juga umat manusia yang percaya para ajaran Yesus. Berarti dengan kata lain, umat manusia adalah saudara. Itulah sebabnya para pengikut Kristus mula-mula lazim menggunakan istilah "saudara" dalam menyebut sesama murid Tuhan. Sampai sekarang, ajaran ini bisa menyelesaikan berbagai persoalan umat manusia secara global, dimana masih banyak perbedaan ras, agama, kelas sosial, dan ekonomi.

 

Allah yang Transenden

Yesus juga mengajarkan bahwa Allah itu transenden dan mahakuasa atas langit dan bumi (Matius 11:25). Dalam doa Bapa Kami, alamat doanya adalah ‘Bapa kami yang di sorga’ ( Mat 6:9). Sorga berarti tempat yang terpisah jauh dari bumi. Kemaha-kuasaan dan kemaha-hadiran Allah antara lain disebutkan dalam Luk 10:21 dan Mat 6:9, dimana Yesus mengajar bahwa Allah Bapa menciptakan dan memelihara segala sesuatu.

 

Hubungan Bapa-Anak

Pemilihan nama "Bapa" oleh Yesus mengungkapkan sifat sebenarnya dari Allah. Gambaran yang paling tepat adalah sikap seorang bapa yang normal pada anak-anaknya di dunia. Seorang bapa manusia yang normal tentunya sangat mengasihi dan memelihara anak-anaknya. Seorang bapa akan menjadi guru dan teladan bagi anak. Dan anak akan meniru cara hidup dari bapanya. Tujuan seorang anak bahkan dapat dikatakan menjadi seperti bapanya. Gambaran ini berbeda dari konsep Allah sebagai raja atau tuan, sedangkan umat manusia sebagai rakyat dan hamba. Demikian pula konsep hakim dan terdakwa. Konsep lain lagi yang berbeda adalah antara majikan dan karyawan. Bapa memelihara dan sangat memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya (rambut di kepalapun dihitung, Mat 10:30, burung terkecil diperhatikan, Mat 6:26-30). Bapa memelihara anak-anakNya dalam setiap keadaan (Mrk 13:11; Luk 12:4-12; 21:18).

Bagaimana Allah itu kasih, ditunjukkan pula dalam kehidupan Yesus. Dia adalah contoh sempurna pelaksanaan kasih dalam kehidupan manusia. Dia penuh rahmat dan berbelas kasihan. Dia tulus dan bersahabat. Dia tanpa cela. Dia penuh perhatian dan sangat dihormati murid-murid-Nya. Dia tidak memaksa orang menerima ajaran-Nya, tetapi Dia memberi dan menjawab kebutuhan orang, sehingga orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Yesus melakukan misi menyelamatkan isi dunia. Mencari Mencari dan menyelamatkan yang hilang adalah kesukaan besar bagi Yesus dan BapaNya (Mat 22:4; Mrk 10:45; Luk 12:32, dll).

Sebagai akibatnya, kehidupan beragama orang percaya juga seharusnya dipenuhi oleh kasih, rahmat, belas kasihan, kejujuran, kebaikan hati, dan berbagai buah roh yang lain. Melakukan kehendak Allah adalah bukan melakukan kewajiban-kewajiban yang memberatkan atau dengan penuh takut dan gentar, melainkan dengan sukacita (seperti doa Bapa Kami ‘jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga’, Mat 6:10 dan Yoh 15:10-15). Bahkan di Taman Getsemani, walaupunYesus berjuang menyerahkan kehendakNya pada kehendak BapaNya, namun akhirnya Dia mendapatkan kekuatan dan ketenangan yang Dia perlukan untuk menghadapi salib dengan menyerahkan diri pada kehendak BapaNya (Mat 26:36-46). Orang percaya melakukan kehendak Allah dengan penuh sukarela dan sukacita, dan dari situlah kekuatan Allah mengalir.

Terlebih lagi, saat ini Bapa telah menyerahkan segala sesuatu di sorga dan di bumi dan di bawah bumi dalam kekuasaan Yesus (Yoh 5:25; Mat 11:27; 28:18-20; Luk 10:22; Mrk 12:6; Yoh 3:34-36; 5:17-27; 8:59; 10:30). Oleh sebab itu ajaran utama Yesus tentang konsep Allah Bapa ini sangat penting untuk diajarkan dan dipahami dalam misi penginjilan.

 

B. KONSEP ALLAH DALAM ISLAM

Istilah "Allah" dapat diartikan "Nama Keagungan dan Kemuliaan". Allah merupakan nama suatu Hakikat atau keniscayaan yang bersifat mutlak. Agaknya Kata "Allah" merupakan pengkhususan dari kata al-ilah (ketuhanan). Kata Allah tidak dapat diurut secara gramatika, melainkan merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan. Ia merupakan kata pembuka menujua esensi (hakikat) Ketuhanan.

 

Nama ‘Allah’ sudah dipakai sebelum masa Muhammad, misalnya sudah ada nama Abdullah (hamba Allah), nama ayah nabi Muhammad. Nama Allah juga digunakan oleh orang-orang Kristen berbahasa Arab dan gereja-gereja Timur untuk memanggil Tuhan.

 

Nama-nama Allah

 

Melalui nama, lebih mudah memahami konsep Islam tentang Allah. Al-Qur’an menerangkan berbagai nama Allah dengan indah misalnya

‘Tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup lagi kekal abadi’.

‘KepunyaanNya apa yang terdapat di langit dan di bumi’

‘Dia adalah Allah’

‘Tiada Tuhan selain Dia’

‘Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata’

‘Yang Maha Menciptakan’

‘Pemilik Nama-nama yang paling baik’

‘Dia Maha Perkasa serta Maha Bijaksana’ (Qs. 59:22-24),

dan masih banyak lagi sebutan untuk Allah.

Salim menyebutkan dan menguraikan secara rinci tentang arti 99 nama Allah (Asma Allah Al-Husna). Dia disebutkan sebagai Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yangf Maha Merajai, Suci dari Cacad dan Noda, Maha Pemberi Keselamatan, Pemberi Kemenangan, Maha Pelindung dan Pengawas, Maha Mengalahkan, Maha Perkasa, dan seterusnya. Sani dalam buku Hamid (1999) menyebutkan bahwa 76 nama berasal dari Al-Qur’an sedangkan 23 lainnya terdapat dalam hadis. Istilah Asmaul Husna itu sendiri terdapat dalam Surat Thaha ayat 8 : "Dialah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki Al Asmaaul Husna (nama-nama baik yang indah)."

Allah didefinisikan sebagai: dzat pemilik segala keagungan dan kesempurnaan. Dia tidak berawal, dan juga tidak berakhir. Dia Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Tiada seorangpun yang setara dengan Dia. Dia tidak menyerupai sesuatu, dan tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dialah pencipta, penguasa, dan mengatur tunggal alam semesta beserta isinya. Tiada Pencipta selain Dia. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kerajaan dan Kekuasaan-Nya sangat sempurna. Dia adalah Rajadiraja. Dia berada di atas Arasy (singgasana Tuhan di atas langit ketujuh yang tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal manusia, tapi dapat diyakini kebenarannya), namun Dia Mahasuci dari sifat istiqrar (menetap). Dia juga dekat dengan segala sesuatu, bahkan dekat kepada hati manusia, melebihi urat leher manusia itu sendiri.

Definisi di atas mencakup hampir seluruh pengertian Islam tentang wujud (nature) dan sifat (attribute) Allah. Jelas bahwa Allah itu transenden, jauh terpisah dari manusia dan sama sekali tidak bisa disamakan. Dia sendirian dan mengatur segala sesuatu sendirian. Dengan demikian, hubungan antara Allah dan manusia adalah harus melalui perantaraan wahyu, yang disampaikan para nabi dan rasul.

 

Sifat Allah

 

Lebih lanjut, sifat Allah sebagaimana dijelaskan oleh Hamid adalah sebagai berikut :

 

Allah memiliki 20 sifat wajib dan 20 sifat mustahil, serta satu sifat jaiz (wewenang):

1. Allah itu wujud (ada), mustahil ‘adam (tiada), Q.S As-Sajdah 4.

2. Qidam (paling awal), Q.S Al Hadid 3.

3. Baqa (kekal, tidak berakhir), Q.S Ar-Rahman 27.

4. Berbeda dari segala makhluk, Q.S Asy Syuura 11.

5. Berdiri sendiri, Q.S Al Ankabut 6.

6. Wahdaniyat (esa), Q.S Al-Ikhlas 1.

7. Qudrat (kuasa), Q.S Al Baqarah 20.

8. Iradat (berkehendak), Q.S Huud 107.

9. Ilmu (maha mengetahui), Q.S An-Nisaa’ 176.

10. Hayat (hidup), Q.S Al Furqaan 58.

11. Sama’ (maha mendengar), Q.S Al Baqarah 256.

12. Bashar (maha melihat), Q.S Al Hujurat 19.

13. Kalam (berfirman), Q.S An-Nisa’ 164.

14. Qadiran (Dzat yang Maha Berkuasa), Q.S Al Baqarah 20.

15. Muridan (Dzat yang Maha Berkehendak), Q.S Huud 107.

16. ‘Aliman (Dzat yang Maha Mengetahui), Q.S An Nisa’ 176.

17. Hayyan (Dzat yang Hidup), Q.S Al Furqaan 58.

18. Sami’an (Dzat yang Maha Mendengar), Q.S Al Baqarah 256.

19. Bashiran (Dzat yang Maha Melihat), Q.S Al Hujurat 18.

20. Mutakalliman (Dzat yang Berfirman). Q.S An Nisa’ 164.

Sifat Jaiz (wewenang) adalah berwewenang menciptakan sesuatu atau tidak.

Sifat-sifat Allah SWT tersebut di atas, dikelompokkan menjadi empat, yaitu :

1. Sifat nafsiah (kedirian), yakni sifat yang pertama.

2. Sifat salbiyah, yaitu sifat-sifat yang membedakan Allah dari dzat-dzat lain, seperti sifat nomor 2,3,4, dan 6.

3. Sifat ma’ani, yakni sifat-sifat abstrak (nomor 7-13).

4. Sifat ma’nawiyah, yakni sifat-sifat berikutnya aatu sifat-sifat yang tergantung pada ma’ani.

Aspek keesaan Tuhan adalah dasar yang paling utama dalam dogma Islam. Untuk itu dalam teologi Islam dikenal ilmu Tauhid (keesaan Tuhan). Q.S Al-Ikhlas 1-4 mengatakan: "Katakanlah (hai Muhammad) bahwa Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu. Ia tiada beranak, dan tidak diperanakkan, serta tak satupun yang setara dengan-Nya."

Hamid manulis bahwa ajaran Tauhid tidak hanya diturunkan kepada Nabu Muhammad, melainkan juga kepada kepada rasul terdahulu. Yohanes 17:3 :"Inilah hidup yang kekal, yaitu agar mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan benar, dan Yesus Kristus yang telah engkau suruhkan itu." Juga dikutip Markus 12:28-32 tentang percakapan Isa a.s. dengan seorang muridnya ahli Taurat yang menjelaskan bahwa Allah itu Mahaesa. Berikutnya, yang dituduh mengubah ajaran Isa sehingga mentuhankan Isa, yang pertama kali adalah Saul (Paulus).

 

Istilah Anak Tuhan (Anak Allah)

Ash-Shamad menolak dogma Kristen bahwa Yesus adalah Anak Tuhan secara khusus dan unik. Dogma Kristen ini dianggap tidak sesuai dengan ucapan dan ajaran-ajaran Yesus sendiri. Dalam Alkitab, istilah Anak Tuhan sering dipakai untuk menunjukkan para Nabi terdahulu dan Israel itu sendiri. Ayat yang diambil antara lain Keluaran 4:22, Mazmur 2:7, kemudian disesuaikan dengan perkataan Yesus dalam Matius 5:44-45 (kasihilah musuhmu… dan akan menjadi anak-anak Bapamu di sorga), kemudian Matius 5:9 (orang yang membawa damai … akan disebut anak-anak Allah). Dikutip pula dari Yohanes 10:34-46 dan Mazmur 82:6-7. Demikian pula dari Al-Qur’an dalam Al-Baqarah 116 dan Maryam 35 yang menolak bahwa Allah mempunyai anak. Pernyataan anak-Allah dianggap hanya kiasan saja, bukan secara harfiah.

Alasan secara umum mengenai hal itu sering sekali dikemukakan oleh Islam bahwa, secara falsafi tidak ada makhluk yang berasal dari makhluk lainnya, yang dapat muncul dan hidup sebagai individu terpisah (yang berbeda) lalu menjadi persamaan dan partner-Nya yang dianggap sebagai suatu kesempurnaan. "dan memberikan atribut sebagai seorang anak yang dilahirkan Tuhan" itu dapat dianggap mengingkari terhadap kesempurnaan Tuhan.

Dalam pembahasan dan kutipan di atas pun orang muslim sama sekali tidak menolak otoritas ucapan Yesus yang tertulis dalam Injil. Yesus sendiri, dalam kemaha-tahuan-Nya, nampaknya sudah mengetahui kesulitan-kesulitan pemahaman yang akan timbul ini, sehingga Yesus dalam pendekatan-Nya pada orang Israel tidak langsung menyebut dirinya Anak Allah, tetapi Ia menggunakan istilah Anak Manusia.