Make your own free website on Tripod.com

RITUAL

Ritual dijumpai pada upacara atau tatacara agama, dan ada pada semua agama, misalnya dalam bentuk tatacara ibadah baptisan, perjamuan, penyucian, korban, doa, tarian, nyanyian, ziarah, dan sebagainya, baik ibadah pribadi maupun bersama orang lain.

Urantia Book memuat satu bab khusus mengenai Ritual dan hubungannya dengan Imam (Priest) dalam Paper 90 bab 5, halaman 992. Beberapa hal khusus mengenai ritual yang disebutkan dalam UB antara lain adalah sbb:

Definisi Ritual

(Paper 90, hal 992):

Ritual adalah teknik (cara, metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci (sanctify the custom). Ritual menciptakan dan memelihara mitos, juga adat sosial dan agama. Ritual bisa pribadi atau berkelompok. Wujudnya bisa berupa doa, tarian, drama, kata-kata seperti "amin" dan sebagainya. 

Asal Mula dan Perkembangan Ritual Agama

- Ritual pertamanya sering bersifat sosial, kemudian menjadi ekonomis, lalu berkembang menjadi tatacara suci agama.

- Salah satu ritual yang paling kuno adalah ziarah (ziarah kubur, naik haji, dll).

- Kemudian upacara penyucian, pembersihan, lalu upacara inisiasi (masuk, misalnya masuk manjadi anggota, hamil 7 bulan, masuk akil balik, dll).

- Bentuk lebih modern adalah doa, bacaan bersahutan, dsb.

Hubungan Ritual dengan Imam (Priests)

Ritual itu intinya terletak pada pelaksanaannya dengan tepat. Sehingga lama kelamaan orang cenderung memfokuskan pada Teknik Ritual. Teknik pelaksanaan ritual itu umumnya rumit dan panjang. Sehingga kemudian diperlukan orang-orang khusus untuk itu. Itulah mulainya golongan imam.

Imam pertamanya berkembang dari dukun (shaman), kemudian menjadi oracles, diviners, penyanyi, penari, pembuat-cuaca (menangkal hujan, mendatangkan hujan dll), penjaga relik (benda suci dan kuburan), penjagatempat ibadah dan kuil, peramal, lalu kemudian berkembang menjadi pemimpin ibadah agama.

Dalam posisi pemimpin ibadah yang rutin (dan seringkali rumit) inilah, lalu diperlukan tempat dan jabatan khusus, muncullah kasta Imam (golongan Lewi, pandhita, pendeta, imam, brahmana, ulama, dll).

Kemudian ada spesialisasi, ada yang menjadi penyanyi, ada yang sebagai pendoa, atau ada yang melaksanakan korban. Belakangan muncul spesialisasi pengkhotbah.

Ketika agama telah semakin resmi melembaga sebagai institusi, para imam ini malah berani mengaku "memegang kunci sorga".

Belakangan, banyak dari para imam yang tidak lagi hanya menjadi pemimpin ritual, tetapi mengarahkan perhatian pada teologi (upaya untuk mendefinisikan Allah). Itu adalah kemajuan baik.

Akibat dan Pengaruh Ritual

Dampak Negatif :

- Ritual cenderung untuk menjadi pengganti agama. Ini bahaya untuk agama yang cenderung berpusat pada ritual. Orang hanya mengikuti ritual tanpa tahu dan menghayati keimanan dan perkembangan kerohanian dengan baik. Ritual menjadi kebiasaan, menjadi agama tersendiri.

- Menghambat perkembangan kerohanian. Sulit mengembangkan kerohanian dan perbaikan doktrin bila agama dipenuhi oleh ritual dan dikuasai para imam ritual.

- Menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Ini telah terbukti sepanjang sejarah manusia. UB mengatakan ritual-ritual yang panjang dan melelahkan telah menjadi kutuk bagi bangsa-bangsa selama ribuan tahun. Ritual agama makan banyak waktu, kekanak-kanakan, bodoh (Lihat Paper 89 bab 3 hal 976, juga Paper 127 halaman 1404, dan Paper 76 halaman 1076).

- Ritual bisa berpotensi menolak pembaruan dan kebenaran.

Yesus terang-terangan menuduh orang Farisi dan para Imam meletakkan beban yang terlalu berat pada umat, sedangkan mereka munafik karena pandai mencari celah untuk menghindari beban hukum Musa. Para imam memang mendapatkan kekuasaan atas umat dengan cara demikian. Perhatikan kerasnya perkataan Yesus tentang hal ini dalam Paper 175, halaman 1906-1907. Bangsa Yahudi menolak ajaran Yesus karena pemuka Yahudi (terutama) tidak mau meninggalkan TRADISI RITUAL dan kekuasaan IMAM yang berlaku saat itu. Agama mereka terlalu MELEMBAGA sehingga tidak bisa direformasi lagi. Akibatnya fatal. Dalam khotbahnya yang terakhir di Bait Suci, Yesus menawarkan rahmat dan ampun yang terakhir, tetapi itupun ditolak. Akibatnya Yesus mengatakan mulai hari itu, Israel akan kehilangan posisi pusat keagamaan dunia, dan akan diberikan pada bangsa-bangsa lain. Kemudian Yesus mengucapkan selamat tinggal dan menyerahkan Israel pada penghakiman Hakim yang berkuasa atas kerajaan bumi (Most Highs, Vorondadek, golongan "Gubernur" dalam pemerintahan Yesus atas alam semesta), dan itu terjadi pada tahun 70 M. Ribuan orang Yahudi disalibkan di Golgota tanpa ampun oleh tentara Titus dari Roma. Peristiwa ini dicatat dalam Paper 187 bab 1, halaman 2005). Yahudi tersebar sampai seluruh dunia, dan sampai hari ini tidak menjadi pusat agama dunia, malah menjadi pusat konflik. Mereka ciptaan yang terlalu lancang menolak Penciptanya.

Agama yang terlalu berpegang pada ritual harus berhati-hati.

Namun demikian ritual ada pula dampak positifnya :

- Stabilisasi peradaban. Misalnya di bangsa-bangsa yang memeluk Islam, terlihat lebih stabil dengan adanya keseragaman ritual.

- Peningkatan jenis budaya tertentu. Kita melihat misalnya di Bali, ritualnya bermanfaat bagi turisme dan pengembangan seni).

- Membantu pengendalian-diri manusia (paper 89, bab 3, hal 976).

Apa yang Harus Dilakukan?

Karena peran ritual yang sangat penting dalam perbuatan manusia beragama, UB menyarankan agar ritual yang kurang baik JANGAN DIBUANG, tetapi DIREFORMASI (Paper 97 halaman 1076). Adalah keliru jika pemimpin agama menghancurkan suatu ritual kelompok (mungkin setelah melihat kejahatan agama yang melembaga).

Buatlah ritual yang lebih unggul, lebih murni, dan terus direvisi sesuai perkembangan zaman.

Yesus pada waktu berumur 20 tahun pernah melakukan reformasi ritual (Paper 127, bab 6, halaman 1404). Yesus tidak setuju cara pengorbanan domba Paskah, karena tidak sesuai konsep Allah yang penuh kasih (Lihat juga kisah Yesus di Yerusalem pada umur 12 tahun, Paper 125 halaman 1377). Untuk itu Dia memperkenalkan cara baru : roti tidak beragi disebut "roti hidup" dan air anggur disebutnya "air hidup." Disajikannya pada para rekannya, dan mereka makan dengan diam dan dengan khidmat, tanpa penyembelihan domba. Ini menjadi kebiasaan Yesus, yang kemudian diajarkan pada para murid dan dilanjutkan oleh Gereja Kristen sampai hari ini. Ini sesuai maksud hukum Musa, dan tidak melanggar maksud Allah. Karena sesuai dengan maksud sesungguhnya ritual itu, maka ritual baru itu menjadi sah.

Jadi patokannya adalah :

- Lakukan eksegesis (analisis asal mula dan tujuan ritual itu diadakan) secara teliti. Selidiki bagaimana itu berlangsung dan mengapa diperintahkan pada konteks dulu, lalu ambillah maksudnya untuk zaman ini.

- Lakukan perubahan secara bertahap dan yakinkan bahwa ritual baru itu akan jauh lebih bermanfaat daripada yang lama.

- Lakukan komunikasi yang baik dengan umat dan pihak lain.

Ini tidak akan mudah, terutama menghadapi orang-orang yang kolot dan mempunyai maksud lain daripada pengembangan agama. Selamat mereformasi!